ddiinad.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Profil Dewan Dakwah Islam Indonesia

E-mail Cetak PDF

LATAR BELAKANG 

Dewan Da`wah Islamiyah Indonesia atau disingkat “Dewan Da`wah”, didirikan oleh para ulama, pejuang dan tokoh Masyumi atas  inisiatif Alm. Dr. Mohammad Natsir, mantan Ketua Umum Partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dan Mantan Perdana Menteri pertama RI, melalui musyawarah alim ulama se-Jakarta yang difasilitasi oleh Pengurus Masjid Al-Munawarah, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 26 Februari 1967, bertepatan tanggal 17 Dzulqa’dah 1386 H, satu tahun setelah jatuhnya rezim Orde Lama setelah pemberontakan G 30 S PKI.

Keadaan yang mendorong berdirinya Dewan Da’wah saat itu antara lain adalah kondisi ummat yang telah terpuruk dari berbagai bidang kehidupan akibat kefakuman da’wah selama rezim Orde Lama serta tekanan dan intimidasi terhadap kekuatan politik Islam yang ditandai dengan dipenjarakannya tokoh-tokoh pejuang Muslim di tanah air. Kondisi ini telah membuka kesempatan Dr Muhammad Natsir dan kawan-kawan untuk membentuk satu wadah tempat berhimpunnya para ulama dan mujahid da’wah serta para cendekiawan dari berbagai profesi untuk meningkatkan harkat dan martabat ummat serta meningkatkan mutu da’wah dalam berbagai bidang kehidupan. Sesuai dengan kondisi politik saat itu, mereka sepakat untuk mengambil jalur da’wah untuk melanjutkan ide perjuangan penegakan syariat Islam.

Semboyan yang dikumandangkan saat itu adalah “Dulu kita berda’wah melalui jalur politik, sekarang kita berpolitik melalui jalur da’wah”. Untuk itu, tugas pertama yang dilakukan adalah menyadarkan segenap ummat akan kewajiban da’wah baik secara individu maupun berjama’ah, sesuai dengan perintah Allah:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl 125) 

Dan tuntunan Rasulullah SAW: “Sampaikan dari aku meskipun satu ayat.” (HR Bukhari) Para pendiri dan pengurus pada saat awal Dewan Da’wah didirikan adalah: Mohammad Natsir, H. Buchari Tamam (tokoh GPI), K H. Taufiqurrahman, (mantan Menteri Agama RI), Mr. Boerhanuddin Harahap  (mantan Perdana Menteri RI), K.H. Hasan Basri  (Ketua Umum Majlis Ulama Pusat), H. Mansyur Daud Dt. Palimo Kayo (mantan Duta Besar RI untuk Timur Tengah), H. Zainal Abidin Ahmad  (anggota DPR/MPR RI), K.H. Malik Ahmad (PP Muhammadiyah), Mr. Syafrudin Prawiranegera (Presiden Pemerintah Darurat RI dan mantan Menteri Keuangan /Direktur Bank Indonesia), Prof. DR.Osman Raliby (Guru Besar UI), H. M. Yunan Nasution (Yayasan Pembangunan Umat), dan Abdul Hamid (Tokoh Masyarakat Jakarta).

Selain para tokoh tersebut, Dewan Da’wah juga didukung oleh sejumlah tokoh pendukung dan penerus yang konsisten melaksanakan perjuangan Dewan Da’wah. Mereka antara lain: Prawoto Mangkusasmito (mantan Ketua Masyumi), Mohammad Rasjidi (Menteri Agama RI pertama), Mohammad Roem (mantan Wakil Perdana Menteri dan Menlu RI). Faqih Usman (mantan Menteri Agama RI), Anwar Harjono, Afandi Ridwan, Rusyad Nurdin, Amien Rais, AM. Saefuddin, KH. Cholil Badawi, Immaduddin Abdurrahim, dan lain-lain.Dewan Da’wah saat ini dipimpin oleh H. Hussein Umar (selaku Ketua Umum) yang terpilih melalui mekanisme organisasi yang cukup demokratis pada Musyawarah Besar III Dewan Da’wah, bulan Agustus 2005. Beliau didampingi oleh H. Abdul Wahid Alwi (selaku Sekretaris Umum) dan H. Edi Setiawan (selaku Bendahara Umum) dan didampingi oleh beberapa ketua dan sektretaris yang masing membidangi program-program pokok sebagai instrumen strategis organisasi Dewan Da’wah. 

 

VISI

Dewan Da`wah mempunyai maksud dan tujuan di bidang sosial, kemanusiaan dan keagamaan, yakni terwujudnya tatanan kehidupan yang islamy, dengan menggiatkan dan meningkatkan mutu da’wah di Indonesia berasaskan Islam, taqwa dan keridlaan Allah Ta’ala. Atas dasar tujuan tersebut, dengan memperhatikan berbagai perkembangan yang ada, disusunlah visi Dewan Da’wah sebagai berikut: Dewan Da’wah ingin menjadi lembaga  الى الله الدعوة  yang kaffah dan berkualitas dalam semangat amal jama’i untuk kemaslahatan ummat yang berfungsi sebagai: pengawal aqiedah, penegak syari’ah, penjalin ukhuwah, pendukung keutuhan NKRI, dan pendukung terwujudnya solidaritas umat baik secara regional, nasional maupun internasional.

 

 

MISI

Berdasarkan visi di atas disusun 10 Misi Dewan Da’wah, yaitu:

a)      Menanamkan aqidah shahihah;

b)     Menyebarkan pemikiran Islam yang bersumber dari Al Qur-an dan As-Sunnah dalam rangka mewujud-kan tatanan masyarakat yang islamy;

c)      Membendung pemurtadan, ghazwul fikri dan harakah haddamah dengan berbagai cara dan pendekatan;

d)     Menyiapkan du’aat untuk berbagai tingkatan sosial kemasyarakatan, termasuk di daerah tertinggal dan daerah perbatasan;

e)      Menyediakan dan meningkatkan sarana untuk peningkatan kualitas da’wah;

f)       Menghidupkan dan menggairahkan kelesuan da’wah di berbagai kegiatan da’wah serta mendorong lahirnya lembaga-lembaga da’wah dalam rangka membangun kekuatan da’wah;

g)      Mengkaji dan mendorong lahirnya ide-ide kreatif melalui penelitian dan pengkajian ilmiah, yang didukung dengan berbagai penerbitan yang berkualitas untuk mendorong peningkatan kualitas da’wah;

h)     Mendorong, dan memberikan pemahaman kepada umat untuk melaksanakan da’wah dan al amru bil ma’ruf wan nahyu ’anil munkar, baik secara sendiri-sendiri maupun berjamaah;

i)        Mengembangkan jaringan kerjasama (networking) da’wah dan pengembangan ekonomi syariah serta koordinasi ke arah realisasi amal jama’i dan menyukseskan program da’wah di berbagai bidang kehidupan;

j)       Meningkatkan ukhuwah, persatuan dan kesatuan ummat dalam rangka mendukung keutuhan NKRI, dan terwujudnya solidaritas ummat Internasional dalam rangka turut serta mendukung perdamaian dunia;k)     Mengolah segala sumber dana da’wah dengan pemahaman investasi dan usaha-usaha ekonomi penunjang da’wah, serta menggerakkan partisipasi para aghniya secara halal, sah dan tidak mengikat.

 

 

NILAI

Dalam upaya pencapaian visi dan misi DEWAN DA’WAH senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai da’wah yang terkandung dalam al Quran yang kemudian mewarnai setiap ucapan, langkah dan gerakan da’wah Dewan Da’wah. Nilai-nilai dimaksud adalah:

1)      Tegas dalam menyatakan pendapat;

2)      Istiqomah dalam bersikap;

3)      Kritis dalam menyikapi keadaan;

4)      Responsif terhadap setiap perkembangan;

5)      Ikhlas dalam berbuat/beramal;

6)      Mengutamakan kepentingan ummat daripada kepentingan individu ataupun golongan.

 

Dengan mengacu pada nilai-nilai tersebut, Dewan Da’wah menjadi organisasi da’wah dan sosial yang independen, tidak berpihak kepada salah satu golongan atau kekuatan sosial-politik manapun, tetapi berpihak kepada kebenaran yang berlandaskan Al Quran dan As-Sunnah. Dengan demikian, Dewan Da’wah mendukung setiap gerakan yang dilakukan oleh organisasi Islam manapun sepanjang tidak bertentangan dengan Al Quran dan As-Sunnah. Sebaliknya, Dewan Da’wah menentang setiap gerakan yangn dilakukan oleh organisasi Islam manapun yang tidak sesuai dengan Al Quran dan As-Sunnah. 

 

 

PROGRAM

Untuk mencapai tujuan dan misi di atas, Dewan Da`wah merancang serangkaian program yang dioperasionalkan melalui berbagai instrumen-instrumen strategis kelembagaan, baik berbentuk bidang-bidang operasional, biro-biro, kelompok kerja, maupun badan-badan khusus yang terkoordinasi dalam satu struktur organisasi Dewan Da’wah. Instrumen-instrumen dimaksud adalah:

Bidang Organisasi dan Administrasi, yang bertugas merancang, menata, membina dan menyelenggarakan model dan sistem organisasi Dewan Da’wah yang sesuai dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan zaman guna mewujudkan Dewan Da’wah sebagai organisasi da’wah yang profesional, produktif kreatif, dan antisipatif. Termasuk melakukan pembinaan organisasi Dewan Da’wah di tingkat propinsi dan kabupaten/Kota.

 

Bidang Pemberdayaan Wilayah/ Daerah dan Kerjasama Dalam Negeri, bertugas merancang, menata, membina dan menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan Dewan Da’wah propinsi dan kabupaten/kota, terutama dari aspek organisasi dan program secara umum. Termasuk merancang, menata, membina dan menciptakan networking Dewan Da’wah dengan organisasi lain terutama dalam upaya memberdayakan potensi-potensi organisasi Dewan Da’wah.

 

Bidang Da’wah dan Diklat, merancang, menata, membina dan menyelenggarakan kegiatan da’wah, pelatihan dan berbagai kursus bagi upaya pengembangan SDM da’wah yang berkualitas. Termasuk memberikan bimbingan dan pendidikan agama untuk masyarakat, bekerja sama dengan pusat-pusat pembinaan Rohani Islam (rohis) di berbagai kantor/ lembaga, baik pemerintah maupum swasta, masjid-masjid serta majlis taklim dan melakukan penempatan da`i diberbagai daerah terpencil, daerah perbatasan dan daerah transmigrasi, termasuk mengupayakan pemberian mukafaah dan kesejahteraannya.

 

Bidang Antisipasi Harakah Irtidad, Ghazwul Fikri dan Harakah Haddamah, yang bekerjasama dengan Bidang penelitian dan Pengembangan, merancang, menata, membina dan menyelenggarakan pengkajian dan antisipasi berkembangnya gerakan-gerakan pemurtadan, ghazwul fikri dan aliran-aliran sesat dalam rangka melaksanakan fungsi Dewan Da’wah sebagai Pengawal Aqidah Ummat, baik melalui workshop-workshop, seminar-seminar, diskusi-diskusi, penerbitan dan lain-lain yang tidak bertentangan dengan Al Quran dan As-Sunnah.

 

Bidang Penelitian dan Pengembangan, merancang, menata, dan menyelenggarakan pengkajian berbagai hal yang terkait dengan pengkajian ilmiah dan  kegiatan da’wah, termasuk menyusun dan menyiapkan data base sebagai bahan pengambilan kebijakan organisasi dan strategi da’wah.

 

Bidang Luar Negeri, merancang, menata, membina dan menyelenggarakan kerjasama dengan nagara-negara lain, khususnya negara-negara Islam dalam upaya meningkatkan posisi dan keberadaan Dewan Da’wah sebagai salah satu anggota Organisasi Islam internasional sehingga terwujud ukhuwah dan solidaritas internasonal. Termasuk di dalamnya menyalurkan derma dari para muhsinin internasional yang akan mendukung dan membantu memperlancar gerakan da’wah di Indonesia, seperti bantuan pembangunan Masjid dan fasilitas peribadatan lannya, menyalurkan santunan dari Aghniya dan Muhsinin internasional bagi para Aitam dan du’afa, serta kerjasama da’wah lainya.

 

Bidang Pemberdayaan Asset, merancang, menata, mengelola dan menyelenggarakan pemberdayaan seluruh aset yang menjadi milik Dewan Da’wah, baik yang berasal dari hibah maupun hasil membeli sendiri, sehingga  menjadi aset yang produktif dan berdayaguna serta dapat mendukung kegiatan Dewan Da’wah, baik yang dibangun sendiri maupun yang dibangun oleh pihak lain yang pengelolaanya diserahkan kepada Dewan Da’wah.

 

Bidang Muslimat, merancang, menata, membina dan menyelenggarakan kegiatan Muslimat,  termasuk merancang dan melaksanakan model dan sistem organisasi Muslimat Dewan Da’wah yang sesuai dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan zaman, terutama berkaitan dengan isyu gender yang dikembangkan oleh kalangan liberal dan sekuler. Selain kedelapan instrumen di atas, Dewan Da’wah juga memiliki instrumen pendukung, baik yang bersifat ilmiah, pendidikan, sosial maupun bisnis. Instrumen-instrumen dimaksud antara lain:

Ø       Instrumen yang bersifat ilmiah, antara lain:

 

Majlis Fatwa. Perkembangan zaman yang semakin pesat telah menorong berkembangnya temuan masalah keagamaan dan perkembangan hukum dalam berbagai bidang. Sesuai dengan tuntutan zaman dan akumulasi masalah yang perlu penyelesaian, Dewan Da’wah membentuk Majlis Fatwa yang bertugas mengkaji, merumuskan dan menyebarkan rumusan penyelesaian suatu masalah, dengan merujuk kepada pandangan para ahli dan rumusan-rumusan fatwa dari berbagai sumber yang pernah mengeluarkan fatwa tersebut.

 

Perpustakaan Umum. Untuk meningkatkan wawasan para da’i dan ummat pada umumnya, Dewan Da’wah mendirikan Perpustakaan Umum yang mengoleksi antara lain buku-buku tentang dan karya para tokoh Masyumi. Di perpustakaan ini juga tersedia koleksi tentang fakta dan data harakah al irtidad dan harakah haddamah yang terjadi di Indonesia, baik berupa buku hasil riset maupun berupa makalah dan kliping koran/majalah.

 

Percetakan dan Penerbitan. Dalam rangka mendukung gerakan da’wah dan meningkatkan wawasan para da’i dan ummat pada umumnya, Dewan Da’wah juga melakukan pencetakan dan penerbitan naskah-naskah da’wah serta buku-buku yang diperlukan dalam rangka pencerdasan ummat, menerbitkan Majalah Media Da’wah, menerbitkan Bulettin Da’wah yang terbit setiap hari jum’at (yang operasionalnya dilaksanakan oleh Dewan Da’wah DKI Jakarta) dan Buletin Serial Khutbah Jum`at yang diterbitkan oleh Ikatan Keluarga Mesjid Indonesia (IKMI), salah satu lembaga khusus di bawah Dewan Da`wah.

 

Ø      Instrumen yang bersifat pendidikan, antara lain:

 

Universitas Islam Mohammad Natsir (UNIM). Dalam upaya kaderisasi, Dewan Da’wah telah mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir dengan kampus utama di Gedung Menara Da’wah, Kramat Raya 45 Sekolah Tinggi ini merupakan kelanjutan dari Lembaga Pendidikan Da`wah Islam (LPDI) yang telah berdiri sejak tahun 80-an namun masih terbatas pada program Diploma, kini  telah ditingkatkan menjadi program Strata1. Sekolah ini juga merupakan cikal bakal untuk berdirinya Universitas Muhammad Natsir yang sedang dalam persiapan pendirian.

 

Pusdiklat Dewan Da’wah. Selain Universitas Islam Mohammad Natsir, Dewan Da’wah juga mendirikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Dewan Da’wah, yang berlokasi di Tambun, Bekasi, Jawa Barat dan Muslimat Center yang berlokasi di Ciayung, Jakarta Timur.

 

Ø      Instrumen yang bersifat sosial, antara lain:

 

Komite Penanggulangan Krisis (KOMPAK) dengan berbagai program kegiatan sosial dan kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang mengalami musibah (seperti bencana alam) dan daerah-daerah minus, antara lain melalui pemberian sembako, penyaluran zakat, fitrah dan hewan korban, pembiayaan anak sekolah, penyaluran bantuan secara insidentil kepada fuqara dan masakin. Di samping itu, KOMPAK juga telah memberi bantuan kepada para korban konflik dan kekerasan di Ambon, Maluku Utara, Poso, Timor Timur, Ketapang, Kalimantan Barat dan Aceh. KOMPAK Dewan Da`wah juga telah mengirim bantuan untuk korban bencana alam di Bengkulu, Jawa Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, Lampung, Banten dan DKI. Melalui KOMPAK. Sebagai wujud solidaritas ummat, KOMPAK telah mengirim delegasi dan bantuan kemanusiaan ke Palestina dan Afganistan.

 

Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah (LAZIZ) Dewan Da’wah, telah disahkan oleh Menteri Agama RI untuk menerima dan menyalurkan zakat, infaq, shadaqah, hibah dan wakaf sebagai salah satu Badan Amal Dewan Da’wah yang bertugas menjembatani antara aghniya dengan fuqara dan masakin, sesuai dengan UU no. 38 tahun 1999 tentang  zakat. Dalam pelaksanaannya LAZIZ dilengkapi dengan berbagai program kegiatan sosial dan kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

 

Ø      Instrumen yang bersifat bisnis.

 

Untuk mendukung kegiatan da’wah di bidang pembiayaan, Dewan Da’wah mendirikan beberapa perusahaan, antara lain: penerbit dan toko buku Media Da`wah, percetakan Abadi, rumah makan, dan layanan Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah Dewan Da`wah (sejak 1998 dan mendapat sertifikat penghargaan Departemen Agama RI). Kemudian, pada tahun 2000 Dewan Da`wah yang disponsori oleh seorang dermawan, juga mendirikan Biro Perjalanan Wisata PT Hudaya Safari. Perusahaan ini, selain melayani perjalanan wisata dan tiketing,  juga melaksanakan pelayanan khusus ONH Plus. Biro perjalanan wisata ini sudah mendapat izin resmi dari Menteri Agama RI. Disamping untuk da`wah, PT Hudaya Safari juga merupakan salah satu penunjang pendanaan bagi Dewan Da’wah, seperti halnya partisipasi modal Dewan Da`wah dalam beberapa usaha lainnya.  

 

 

RESUME AKTIVITAS DEWAN DA’WAH-NAD PASCA TSUNAMI(dikoordinir oleh KOMPAK DEWAN DA’WAH NAD) 

1.    Membuka posko penanggulangan korban bencana gempa dan tsunami tanggal 31 Desember 2004.

2.    mengidentifikasi korban dari keluarga besar Dewan Da’wah-NAD.

3.    menghubungi pengurus Dewan Da’wah Pusat.

4.    menyusun program penanggulangan korban gempa dan tsunami:

 

a.    memfokuskan diri pada beberapa titik pengungsi di Banda Aceh/Aceh Besar, dan di daerah yang sudah ada pembantu perwakilan (Kabupaten Pidie, Bireuen, Singkil dan Aceh Barat, Selatan serta Simeulu), mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki (dana, personil dan fasilitas kerja lainnya).

 

b.    Membagi tahapan program menjadi tiga tahap:

§       tahap emergency dengan membagi pangan, sandang dan obat-obatan di wilayah yang telah dipilih tadi (bulan pertama sampai bulan ketiga).

§       Tahap rehabilitasi; menempatkan dai di kamp pengungsi, membersihkan fasilitas ibadah, bantuan perlengkapan mushalla (tikar, sound system dll), pembagian seragam sekolah, membantu pembangunan rumah-rumah darurat, distribusi alquran dan buku iqrak (bulan keempat sampai bulan ke enam.

§       Tahap recovery dan rekonstruksi; pembiayaan kafalah yatim, pembangunan rumah contoh, pembangunan mesjid, daurah du’at, pengangkatan dai permanen sebanyak 10 orang selama setahun, pemberdayaan ekonomi 21 Janda di desa Durung Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar; usaha peternakan di Limpok Darussalam, dagang di Darussalam, pertukangan di Desa Lambhuk, menjahit di Desa Mibo, dan berbagai home industri lainnya di beberapa daerah binaan. Pembangunan asrama yatim di Kompleks Mesjid Jamik Agung Bireuen (sedang dalam proses).

 

5.    Pelatihan guru sekolah islam (TK-SMU) dalam menghadapi murid trauma di Dayah Tgk Syik Muhammad Dawud Beureu-eh (kerjasama dengan Adnin Foundation dan LP3T Jakarta)

6.    Daurah Syar’iyah bagi Da’iyah (kerjasama dengan As-Sofwah)

7.    Training Da’i se Nanggroe Aceh Darussalam di Aceh Singkil dan Daurah Du’at di  Aceh Tengah, Aceh Besar, Pidie kerjasama dengan Satker P2K3 BRR NAD-Nias

8.    Mengirim peserta magang BMT ke PATI, yang akan difollow up dengan pendirian BMT di Aceh.

9.    Pembangunan rumah yatim di Indrapuri kerjasama dengan yayasan KINDERHUT DUBAI (akhirnya menarik diri kerana tidak ada kesamaan persepsi)

10.Terlibat dalam Forum Silaturrahmi Lembaga-lembaga Islam, dalam kegiatan kampanye anti pemurtadan, mengkritisi blue print rekonstruksi aceh dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya

11.Program penggemukan sapi dengan tehnologi ramah lingkungan di Desa Lamreung 12.Mengirim da’i-da’i ke barak-barak pengungsian di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar.

 

KEPENGURUSAN

Dewan Da’wah memiliki struktur kepengurusan mulai dari tingkat pusat sampai dengan daerah. Kepengurusan Dewan Da’wah di tingkat pusat disebut Pengurus Pusat, di tingkat Propinsi disebut Pengurus Wilayah, dan di tingkat Kabupaten/Kota disebut Pengurus Daerah.  Pengurus Dewan Da’wah di tingkat pusat terdiri dari Badan Pembina, Badan Pengurus, dan Badan Pengawas. Sedangkan di tingkat  propinsi dan kabupaten terdiri dari Badan Pembina dan Badan Pengurus.Adapun personalia Dewan Da’wah di tingkat pusat saat ini adalah:

Ø      Badan Pembina, terdiri dari: M.Chalil Badawi (Ketua), A.M.Luthfi, K. Nadjih Ahjad, A.M. Saefuddin, Didin Hafiduddin, M. Imaduddin Abdul Rahim, Dadun Abdul Qohar (Alm), Jusuf Amir Feisal, Yahya Muhaimin, Abdul Wahid Sahari, Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, Shidiq Amin, Yudo Paripurno, Anwar Shaleh, Rusydi Hamka, Taufiq Ismail, dan Zuhal Abd.Qadir Hasan.

 Ø      Badan Pengawas, terdiri dari: Mohammad Siddik, (Ketua), Saifudin Bachrum, Zulkifli

 

 

Hasan, Fauzi Natsir, Farid Prawiranegara,

 

Ø      Badan Pengurus, terdiri dari: Hussein Umar (Ketua Umum/alm) diganti oleh Uts Syuhada Bahri,  Abdul Wahid Alwi (Sekretaris Umum) dan Edi Setiawan (Bendahara Umum). A. Kholil Ridwan, Daud Rasyid, Adian Husaini, Ramlan Mardjoned, Mohammad Noer, Mas’adi Sulthani, dan Ny. Asma Farida Natsir (masing-masing sebagai Ketua Bidang);  Muzayyin Abdul Wahab, Hardi M. Arifin, Misbach Malim, Amlir Syaifa Yasin, Syariful Alamsyah, Zahir Khan, Avid Solihin, Ny. Andi Nurul Jannah (masing-masing sebagai Sekretaris Bidang); serta Ma’mun Dawud dan Irmawati Djauhari (masing-masing selaku Bendahara).

Dewan Da`wah berkantor pusat di Gedung Menara Da’wah, berlokasi di Jalan Kramat Raya No. 45 Jakarta Pusat 10450. Saat ini telah berkembang di 30 provinsi di Indonesia yang dahulu dikenal dengan sebutan “Perwakilan dan Pembantu Perwakilan Dewan Da’wah” Sesuai dengan perkembangan, istilah perwakilan dan pembantu perwakilan tersebut kini diganti dengan sebutan langsung: Dewan Da’wah Propinsi, Dewan Da’wah Kabupaten/Kota, dst. Sehingga masing-masing kepengurusan dapat bergerak secara lebih kreatif dan dinamis sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah setempat, tanpa harus menunggu instruksi dari Pengurus Pusat.

 

 

Sekretariat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Jl. T. Nyak Arief No. 159 Lamgugob Jeulingke Telp/Fax 0651-7551070 email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

 

LAST_UPDATED2  
Baner

Arsip Berita lama

Polling

Pendapat Anda Tentang Pemerintahan Irwandi...?
 

Siapa Online?

Kami memiliki 1 Tamu online

Statistics

Sistem Operasi : Linux p
PHP : 5.2.10
MySQL : 5.1.39
Waktu : 17:15
Caching : Nonaktif
GZIP : Nonaktif
Anggota : 2148
Konten : 83
Web Link : 5
Jumlah Kunjungan Konten : 215333

Random Image

No images

Related Items